Dosen Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Malang berkolaborasi dengan mahasiswa dan dosen Pendidikan Matematika Universitas Madura dalam penelitian studi kasus di SMP.

Pada hasil penelitian sebelumnya ditemukan bahwa pengalaman belajar melalui penyelesaian masalah dengan cara menghafal prosedur tidak cukup bagi siswa untuk mengembangkan kognitifnya. Fleksibelitas kognitif dapat membantu siswa lebih cepat beradaptasi ketika dihadapkan pada masalah non-rutin dalam konteks yang berbeda. Para dosen dan mahasiswa mengeksplorasi aktivitas fleksibelitas kognitif siswa dalam idea generation (membangun ide) dan idea evaluation (mengevaluasi ide) melalui penyelesaian masalah kreatif matematis. Penelitian multiple case ini melibatkan dua kasus, yakni fleksibelitas kognitif dalam membangun ide dan fleksibelitas kognitif dalam mengevaluasi ide. Delapan siswa terpilih, berasal dari dua SMP berbeda di Jawa Timur, terlibat dalam aktivitas penyelesaian masalah dan wawancara. Namun demikian, hanya tiga dari delapan siswa yang dianalisis datanya karena empat lainnya tidak melakukan evaluasi ide saat menyelesaikan masalah. Data dianalisis dengan tiga tahap, yakni kondensasi data menggunakan NVIVO 15, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasilnya adalah fleksibelitas kognitif dalam membangun ide maupun mengevaluasi ide dikategorikan dalam strategic flexibility dan representational flexibility. Meskipun fleksibelitas kognitif dikategorikan pada kategori yang sama, baik pada membangun ide maupun mengevaluasi ide, namun demikian aktivitas fleksibelitas kognitif pada mengevaluasi ide lebih beragam dibandingkan ketika membangun ide. Oleh sebab itu, pembelajaran matematika di kelas sudah seharusnya memfasilitasi siswa dalam melakukan evaluasi ide dalam aktivitas penyelesaian masalah maupun setting pembelajaran lainnya sehingga siswa dapat mengembangkan fleksibelitas kognitifnya.